Tuesday, June 23, 2020

Penelitian: Tujuan dan Cara Menyikapinya


Riset (research) atau penelitian adalah suatu proses penyelidikan, investigasi, atau pencarian (searching) terhadap suatu masalah (objek) secara sistematis, kritis, dan ilmiah (mengikuti metode tertentu) untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik.
Sederhanya, penelitian adalah aktifitas mencari dan menemukan suatu kebenaran, baik yang sudah diketahui—untuk menemukan fakta baru atau membantah fakta lama, maupun yang belum diketahui sama sekali. Setidaknya ada dua aktifitas dalam penelitian, yakni mencari dan menemukan.
Ada anggapan bahwa penelitian haruslah baru. Anggapan seperti ini kurang tepat. Namun, sebagai kebijakan, perguruan tinggi terkadang sengaja membatasi suatu penelitian agar lebih banyak lagi kebenaran yang terungkap dan lebih banyak lagi tabir rahasia yang tersingkap.
Andaipun kita ingin meneliti pada objek yang sama, ada baiknya kita melakukannya dengan cara atau menggunakan variabel yang berbeda guna memperkaya perspektif maupun wacana. Meskipun demikian, menguji sesuatu yang telah diuji tidaklah terlarang.
Hal ini karena terkadang perubahan begitu cepat terjadi. Terlebih pada penelitian yang didasarkan pada rentang waktu tertentu, dapat dikaji lagi pada rentang waktu yang berbeda. Sebab, penelitian seperti ini biasa akan tergerus oleh laju waktu yang begitu cepatnya.
Lantas, untuk apa kita meneliti? Apa yang kita cari dan bersusah payah kita temukan? Lalu, bagaimana harusnya kita menyikapi suatu hasil penelitian? Pertanyaan inilah yang akan diulas secara sederhana dalam artikel kali ini.
Penelitian berupaya menemukan suatu kebenaran. Kebenaran ini ada yang basisnya penalaran, ada pula kebenaran yang berdasarkan nonpenalaran seperti wahyu. Kebenaran non-penalaran itu sendiri sebenarnya adalah penalaran dalam kategorinya tersendiri.
Kebenaran juga kerap diklasifikasi berdasarkan teori seperti kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, dan kebenaran pragmatik. Menurut teori koherensi suatu pernyataan/premis akan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat logis (masuk akal) dan konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Teori korespondensi memandang kebenaran sebagai sesuatu yang sesuai dengan fakta empirik. Pernyataan/premis dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yg dituju dlm pernyataan tersebut (benar secara faktual/empirik).
Sedangkan menurut teori pragmatik, pernyataan/premis akan dianggap benar jika memiliki kegunaan (manfaat) dalam kehidupan manusia. Kebenaran semacam ini sangat bergantung pada tempat (ruang) dan waktu. Karenanya, apa yang dianggap benar hari ini, pada tempat atau waktu berbeda, pernyataan/premis tersebut bisa jadi salah.
Kembali kepada persoalan, kebenaran yang hendak dicapai dalam suatu penelitian boleh saja bergantung pada ketiga teori tersebut. Kita dapat mencermati kecenderungannya ke mana. Biasanya kecenderungan itu bergantung pada model penelitian dan bidang kajiannya.
Penelitian hukum normatif biasanya akan condong pada model kebenaran aksiomatik atau koherensi. Sedang penelitian biologi, sosiologi, dan ilmu lain yang empirik tentu akan condong pada model kebenaran korespondensi. Bagaimanapun kecenderungan itu tetap dalam payung kebenaran ilmiah.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang didasarkan pada variabel dan metode ilmiah tertentu—karenya disebut pula dengan kebenaran metodologis. Artinya, kebenaran ilmiah sangat bergantung pada cara dan variabel yang digunakan dalam penelitian.
Kebenaran di sini bukanlah dalam arti harus diterima oleh semua orang, melainkan kebenaran yang berpulang pada perspektif, variabel, dan metode yang digunakan tadi. Namanya juga ilmiah yang asal katanya adalah ilmu, tentu berwatak kognitif; dapat dibantah kapan saja.
Bahwa peneliti hendak mengusulkan hasil temuannya sebagai apa yang harusnya kita terima, itu persoalan lain. Seorang peneliti boleh saja sampai pada level merekomendasikan, namun tugas pokoknya adalah mencari dan menemukan kebenaran yang kemudian secara moral harus ia sampaikan/jelaskan.
Hasil penelitian boleh saja berbeda dari apa yang selama ini telah kita yakini, namun ia tidak boleh bohong. Peneliti harus menyampaikan secara jujur apa yang ia temukan. Pada level berikutnya, walau menolak kebenaran yang peneliti temukan, kita sebagai pembaca harus tetap menghormati kejujuran yang ia sampaikan.
Kalaulah hasil penelitian harus sejalan dengan apa yang telah diyakini, ngapain kita meneliti? Justru penelitian memang kerap membantah apa yang selama ini telah kita yakini. Secara sederhana, dulu orang percaya bahwa bumi itu datar. Sekarang, meski masih ada yang percaya, namun mayoritas kita percaya sebaliknya.
Jika ternyata hasil penelitian itu berbanding terbalik dengan apa yang kita yakini, itulah konsekuensi meneliti. Kita berangkat dari asumsi, lalu mencari, dan akhirnya menemui. Setelah menemui, boleh saja menjadi meyakini (mempercayai). Adapun yang berasal dari keyakinan, itu pengamalan namanya.
Anehnya, banyak dari kita yang tidak paham ini. Ilmu dan iman kita campur-adukkan hingga bingung membedakan keduanya. Kadang iman kita anggap ilmiah, kadang ilmu kita perlakukan layaknya keimanan—eksklusif dan tidak mungkin salah.
Akhirnya, kita hanya mengulang-kaji tanpa pembaruan. Alih-alih meneliti, kita sebenarnya sedang beralibi; hanya mencari alasan dan pembenaran belaka. Lalu, untuk apa kita meneliti? Untuk apa kita capek-capek cari data sana-sini?
Semestinya, kalau cara kerja ilmu tidak kita percayai, jangan jadikan ia sebagai alat untuk melakukan pembenaran. Ditolak ya ditolak saja, ngapain pakai acara menyodorkan disertasi? Sederhananya, jika anda menolak kebenaran ilmu, ngapain pakai ilmu untuk menjelaskan/membenarkan keimanan anda?
Tapi, jika kita percaya dengan cara kerja ilmu, membantah produk ilmu malah sangat dianjurkan. Bantah-membantah ini yang mengantarkan kita pada yang paling benar. Bayangkan jika tidak ada bantah-membantah, kita tidak mungkin keluar dari zaman batu.
Bagaimana membantahnya? Adakanlah penelitian baru! Jangan yang satu pakai bahan/data yang telah diolah, yang satu pakai keimanan dan kesepakatan. Yang satu menjelaskan sambil memberi bukti, yang satu pakai dalil "pokoknya". Mana ketemu.
Alhasil, meski penelitian berusaha menemukan kebenaran, namun iyanya tidak mesti harus diyakini, terlebih menempatkannya layaknya keimanan. Namun, jika hendak membantah kebenarannya, adalah tidak fair sekiranya kita menggunakan dalil “pokoknya”. 

Bahkan keimanan sejati tidak diraih dan diekspresikan dengan cara seperti itu. Iman itu melampaui ilmu; lebih tinggi dari ilmu, bukan sebaliknya. Iman itu setelah ilmu. Bukankah kita meyakini sesuatu setelah mengetahuinya?

Load comments