Tuesday, June 30, 2020

Cara Menilai Soal Esai Secara Objektif


Sumber: rencanamu.id
Mengajar sesungguhnya adalah belajar. Mereka yang berhenti belajar harusnya berhenti menjadi pengajar -- Khairil Akbar.
Dosen maupun guru merupakan profesi yang tidak sekadar mengedukasi peserta didik, juga dibebankan untuk mengevaluasi pembelajaran dengan beragam model. Nah, ujian adalah caranya. Ia merupakan salah satu cara untuk mengukur kemampuan peserta didik.
Memang tidak hanya ujian, mengerjakan tugas, aktif di dalam kelas, hingga kehadiran dapat dijadikan dasar dalam menilai. Namun, biasanya ujian tetap berlaku, baik di tengah maupun di akhir semester. Melalui ujianlah biasanya kemampuan peserta didik lebih mudah diketahui.
Layaknya iman, kita tidak bisa mengatakan diri telah beriman begitu saja sebelum melalui beragam macam ujian. Tuhan tidak membiarkan hal semacam itu terjadi. Tuhan justru menyindir orang-orang yang demikian dengan mengatakan “mereka tidak beriman”.
Jika di dalam kehidupan saja ada ujian, maka dalam setiap proses pembelajaran tentu juga ada yang namanya ujian. Meski melulu dengan ujian tidaklah baik, setidaknya ujian tetap digunakan dalam nyaris semua sendi kehidupan. Anda ingin menjadi sesuatu juga harus lulus ujian seleksi, bukan?
Baca juga: Penelitian: Tujuan dan Cara Menyikapinya

Ujian ini beragam istilah dan modelnya. Jika dilihat dari sisi soal, pilihan ganda dan esai adalah dua model yang paling sering digunakan. Meski begitu, dosen dan guru tetap bebas untuk memilih salah satu atau keduanya, atau malah menggabungkan kedua model itu dalam satu ujian.
Terlepas dari itu semua, seorang guru dosen maupun haruslah bersikap fair atau adil dalam menilai. Perasaan tidak boleh diikutsertakan dalam mengamati jawaban peserta didiknya. Jika soalnya pilihan ganda, dosen dan guru mungkin akan mudah terselamatkan dari “bawa-bawa perasaan ini”. Masalahnya justru berada pada soal esai.
Esai sendiri adalah satu bentuk tes tulis yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung masalah dan menuntut peserta didik memberi jawaban berupa uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir mereka.
Kebanyakan soal esai bahkan tidak mendasarkan jawabannya pada satu teks jawaban tertentu. Meski mungkin ada dosen atau guru yang sangat teksbook, jawaban esai tetap berpijak pada makna, bukan teks atau kalimatnya. Kesukaran menilai soal esai mulai terlihat di sini.
Selanjutnya, soal esai juga memberi peluang bagi peserta didik untuk mencurahkan segenap kemampuannya untuk menjelaskan apa yang ia ketahui tentang soal yang diajukan. Perintah “jelaskan” dalam soal ini menambah beban dosen atau guru karena sulitnya menentukan batasan.
Di samping itu, nilai pada setiap soal tidak bersifat tunggal layaknya pilihan ganda yang hanya mengenal satu jawaban benar. Esai bahkan memungkinkan seluruh jawaban mendapat nilai namun dengan gradasi yang berbeda-beda. Lantas bagaimana menentukan narasi yang lebih baik dan mana yang biasa saja?
Baca juga: Belajar Itu Investasi
Berdasarkan pengalaman dan hasil bacaan, tulisan ini mencoba membantu para dosen ataupun guru—khususnya pemula—agar lebih adil dan objektif dalam mengamati dan menilai jawaban peserta didiknya. Tentu yang menjadi fokus kita adalah menilai jawaban esai, bukan pilihan ganda.
Pertama, buatlah soal termasuk kriterianya. Selain perintah “jelaskan”, dalam satu soal dapat pula disisipkan perintah “sebutkan”. Jika terdapat dua perintah ini, maka bobot nilai bisa dibagi dua sama rata maupun secara proporsiaonal seperti 30:70.
Oh iya, sebelum membagi bobot nilai dalam satu soal, secara keseluruhan bobot itu juga harus dibagi. Agar lebih mudah, setiap soal ada baiknya disamaratakan. Jika 100 adalah nilai keseluruhan di mana soal yang bapak/ibu berikan adalah 5 soal saja, maka setiap soal bernilai 20.
Nah, dari 20 itu tentu tidak selalu diberi nilai penuh (full). Terkadang bapak/ibu bisa memberi nilai 5, 10, 15, maupun dalam bentuk kelipatan lain yang tidak lebih dari 20. Di sinilah cara pertama di atas sangat membantu bapak/ibu sekalian.
Contoh:
Sebut dan jelaskan tiga asas pemerintahan daerah!
Jika hanya disebut, maka nilai maksimalnya adalah 10 dan jika disebut serta dijelaskan, maka nilai maksimalnya adalah 20.
Kedua, untuk masing-masing perintah ada baiknya dibuat pula gradasi dan kriterianya. Sebagai contoh, perintah sebutkan dapat diberi nilai 0, 5, dan 10. Artinya, jika yang kita kehendaki tidak dijawab, maka berilah nilai 0. Jika yang disebutkan hanya setengahnya, beri nilai 5, dst.
Baca juga: Resmi Jadi Alumni UII
Perintah “jelaskan” sebenarnya berlaku prinsip yang sama. Namun di sini bapak/ibu tidak bermain di angka (kuantitas), melainkan pada kualitas jawaban. Bapak/ibu dapat saja membuat beberapa list kata atau semisalnya sebagai standar maksimal. Namun fokusnya tetap pada kekuatan narasi jawaban.
Selain itu, kepadatan jawaban dan/atau panjangnya narasi jawaban juga dapat bapak/ibu pertimbangkan. Hanya saja, bapak/ibu jangan terkecoh dengan panjangnya jawaban sebab terkadang jawaban demikian tidak sama sekali yang bapak/ibu inginkan.
Ketiga, jawaban peserta didik harus dibaca seluruhnya. Agar tidak timpang, ada baiknya soal pertama dibaca terlebih dahulu untuk setiap siswa agar bapak/ibu mendapat gambaran seperti apa rata-rata jawaban mereka serta mengelompokkan jawaban yang sama untuk dikurangi nilainya.
Jangan sampai jawaban yang pertama bapak/ibu beri nilai tinggi, namun pada jawaban temannya yang lain dengan narasi yang persis sama bapak/ibu beri nilai rendah karena dianggap plagiat atau mencontek. Keduanya harus disikapi secara adil.
Terkhusus di era normal baru yang memaksa kita belajar dan mengajar serta beraktifitas secara daring, jawaban yang relatif sempurna wajib diamati. Pasalnya, melalui mesin pencarian biasanya pertanyaan kita dengan mudah dicari jawabannya.
Memang sih ada beberapa orang yang tidak teliti dan sangat mudah kita ketahui apakah dia menyalin-tempel jawaban atau tidak. Namun, di sana juga ada loh peserta didik yang cerdas dan dapat mengelabui guru atau dosennya. Kita jangan mau kalah canggih, ya bapak/ibu.
Terakhir, saat memeriksa soal, janggan pernah melihat identitas khususnya nama peserta didik. Identita itu bapak/ibu lihat ketika hendak menyalin nilai ke lembar nilai. Dan yang terpenting, hasil pemeriksaan tetap bapak/ibu simpan setidaknya sampai masa sanggah  berakhir, ya.
Berikut adalah contoh rubrik penilaian yang mudah-mudahan membantu bapak/ibu untuk bersikap adil dan objektif dalam memeriksa soal esai. Rubrik ini bisa ditambah dan dikurangi bahkan dimodifikasi sesuai kebutuhan bapak/ibu sekalian.
Contoh soal dan rubrik penilainnya:
1. Sebut dan jelaskan dua saja prinsip Pemilihan Umum!
Soal Nomor
Penilaian
Total Nilai
Lengkap
Benar
Kejelasan
1
Jumlah yang dijelaskan
1
X
3
17
2
Jumlah yang disebutkan
1
2
2
Jumlah yang dijelaskan








Jumlah yang disebutkan






Nilai Maksimal
8
8
4
20

Jika bapak/ibu punya pengalaman dan/atau trik lainnya, silakan beri pandangannya di kolom komentar, ya!

Load comments