Friday, December 22, 2017

Agama dan Logika

Qureta.com, 17 Desember 2017 | Pernah nggak sih kamu merasakan atau setidaknya bertemu dengan orang yang jika ia beragama, rasanya hal-hal yang logis tidak berarti sama sekali baginya. Sebaliknya, jika seseorang sangat mengandalkan logika, agama seakan menjadi mitos, mistis, tidak ilmiah, dan karenanya harus ditolak. Intinya, agama dan logika menjadi sesuatu yang kontradiktif; berseberangan; atau biner. 
Sumber: https://muhsinlabib.com/
Ketika seseorang berargurmen atau terlibat dalam sebuah diskusi/ perdebatan, dalil agama dan dalil logika menjadi dua dalil yang tidak saling ketemu. Keadaan ini—selain memang pernah saya alami, sering kita temukan di masyarakat bahkan mungkin sangat dekat dengan kita. Hal inilah yang hendak saya bicarakan dalam artikel ini.
Terus terang, belakangan ini saya agak tertaganggu dengan sikap beberapa orang yang penampakan luarnya begitu religius, ahli ibadah, mulai rajin ikut ta’lim (liqo’), penampilannya kian nyunnah (celana cingkrang, jenggotan, berjubah, dsb), dan sebagainya. Menurut saya, keadaan dan kegiatan tersebut semestinya membuat mereka semakin kritis atau kuat daya pikir/ analisisnya, dan tidak serta merta cepat menelan sesuatu. Alam pikir saya menempatkan sikap beragama berbanding lurus dengan kecerdasan. Saya setuju dengan sebuah ayat yang menyatakan bahwa “yang paling taqwa di antara manusia (hamba) adalah yang paling banyak ilmunya (Ulama)”.
Tapi, realita yang saya temukan (rasakan) justru terbalik. Orang-orang seperti gambaran saya di atas malah semakin merosot akal pikirannya. Mungkin salah analisis saya, tapi pendapat ini saya sandarkan pada beberapa sikap yang saya temukan dari praktik keberagamaan mereka. Saya melihat, betapa karena kesalihan mereka, apa-apa jadi salah, jadi sesat, bid’ah, dan kafir. 
Semuanya hanya dengan segampang membalikkan telapak tangan. Ya, mereka tinggal menyebut (klaim) maka sesuatu akan seperti sebutan mereka. Contoh, mereka menyebut maulid itu bid’ah, maka bid’ahlah ia. ‘Menerima atau tidak menerima’ menjadi segampang 'ada atau tidak adanya dalil'. Asal seseorang menyertakan dalil, maka mutlak harus diterima.
Di sini, akal menjadi sesuatu yang harus dikesampingkan. Padahal, tidak demikian sebenarnya agama menempatkan akal. Diriwayatkan bahwa Jibril pernah datang kepada Adam, lalu ia disuruh pilih di antara tiga perkara. Adam lantas bertanya, "Manakah yang tiga perkara itu?"
"Pertama, akal; kedua, malu; ketiga, agama," jawab Jibril. Adam memilih akal. Lalu malu dan agama disuruh pulang oleh Jibril. Keduanya malah menjawab, "Disuruh pulang atau tidak, lantaran akal telah dipilihnya, tidaklah dapat kami berdua meninggalkannya, sebab kami berdua ini adalah pengiring akal." 
Riwayat ini menempatkan agama sebagai pengiring akal. Artinya, terkadang akal memang tidak mampu mengetahui sesuatu. Di situ, agama mengambil peranan dengan penjelasannya. Biasanya, hal-hal semecam ini disebut dengan perkara yang ghaib. Sebut saja hari akhir. Persoalan ini hanya ada dalam narasi keagamaan. Ia menjadi rukun dalam keimanan.
Posisi akal diposisikan pula lewat riwayat-riwayat lainnya. Misal, "Agama manusia adalah akalnya. Barangsiapa yang tidak berakal, maka tiada agama baginya." Atau riwayat lain yang mengatakan, "Tiada sempurna selama-lamanya agama manusia, sebelum sempurna akalnya." Agama dan logika (akal) menurut saya seperti dua sisi uang logam; tidak dapat dipisahkan.
Artinya, di satu sisi agama tidak berlaku bagi orang yang tidak berakal dan kesempurnaannya tergantung pada kesempurnaan akal, sedang di sisi lain agama menjadi pengiring yang menuntun akal. Jika diubah dalam bentuk perintah, riwayat-riwayat di atas seakan memerintahkan, “Berpikirlah kamu (gunakan akalmu), maka kamu akan beragama”, dan “ Beragamalah kamu agar lurus (baik) jalan akalmu”.
Beberapa riwayat di atas saya kutip dari bukunya Hamka. Meski ghairu mu'tabar—bahkan tanpa sanad, yang terpenting dan hendak disampaikan di sini ialah bagaimana sebenarnya hubungan agama dan logika itu. Sejauh amatan saya, agama dan logika merupakan dua hal yang mustahil dilepas salah satunya dari diri manusia. Seseorang yang beragama mustahil melepaskan akalnya sebab jika hilang pikirannya, maka hilang pula agamanya. 
Begitupun dengan berlogika, harus sejalan dengan agama. Agama menjadi nilai yang terkadang merupakan sumber bagi akal dalam menggali sesuatu. Maksudnya, akal akan senantiasa lurus dan sehat karena diiringi oleh agama, bahkan terkadang ia memperoleh sesuatu (kebenaran) dari penjelasan agama.
Jadi, ketika seseorang meminta kita lansung taat pada apa yang ia sampaikan, sekalipun yang ia sampaikan adalah ayat-ayat al-Quran, maka dengarkan terlebih dahulu, bukan mentaatinya. Mentaati adalah hal kedua setelah akal memproses apa yang ia terima dari panca indra manusia. Bukan menolak kebenaran, justru kita harus memastikan apakah yang ia sampaikan adalah kebenaran atau bukan. 
Dahulu, ketika masih ada Nabi yang langsung menyampaikan, Nabi masih meletakkan perintah “dengarlah” sebelum perintah “taatilah”. Tujuannya untuk hari ini adalah, agar terang apakah yang  kita dengar itu benar sebuah ayat/ riwayat, atau bukan, dan bagaimana penjelasannya, apakah demikian?
Agama dan akal Allah ciptakan dan berikan kepada kita tentu dengan suatu tujuan. Nah, di situlah letak tujuan diciptakannya agama dan akal itu, yakni untuk mengiring manusia kepada mengenal Allah (ma’rifatullah) yang dengan pengenalan itu menjadi taat beribadah kepadaNya. Siapapun harus menggunakan akalnya, dan siapapun harus mendalami agamanya. 
Kalau akal tidak ada, pendengar hanya akan menjadi objek, sedangkan penceramah, tidak ada jaminan bahwa seluruh yang disampaikannya adalah benar. Kalau agama tidak ada, akal saja belumlah cukup untuk menjelaskan segalanya, walau terkadang akal malah menjadi acuan (agama) bagi mereka yang tidak sampai agama kepada mereka. Allahu a’lam.

Load comments