Sunday, November 5, 2017

Belajar Itu Investasi

Sumber: Tribun News
Kali ini saya mencoba mengulas sedikit soal makna belajar sebagai investasi. Sepertinya, perkara ini penting juga disampaikan karena sering terdengar nada sumbang bahkan cibiran kepada orang-orang yang menempuh pendidikan tinggi padahal ekonominya lemah. Bukan hanya saya, beberapa kawan juga merupakan orang yang sederhana hidupnya tapi tinggi pendidikannya. Ada seorang teman yang lama sudah tidak berjumpa, ketika terdengar kabar tentangnya, ia sekarang bekerja sebagai penjual ikan padahal lulusan perguruan tinggi dengan IPK di atas 3. Apakah lantas ia menyesali pendidikannya? Tidak. Orang lain yang sering menyindirnya dengan berbagai sindiran.
Emang kenapa jika memiliki pendidikan tinggi tapi menjual ikan? Salah sekiranya kuliah tinggi lalu jadi petani? Apakah harus yang kuliah tinggi bekerja di kantor yang kamu maksudkan? “Apa juga kuliah tinggi”, “Apa juga sarjana”, “Katanya belajar itu investasi”, dan banyak lagi sindiran-sindiran lainnya sering keluar dari mereka yang terlalu sederhana cara berpikirnya. Begini, belajar itu investasi jangka panjang. Butuh sekurangnya 16 tahun untuk level sarjana, 18 tahun strata dua, dan 21 tahun untuk jenjang doktoral. Tapi itu hanya jenjang-jenjang formal. Investasi sesungguhnya justru seumur hidup di mana keuntungannya bisa dinikmati di setiap prosesnya.
Ketika kamu berkata, “percuma sekolah tinggi kalau tetap miskin”, itu sama halnya kamu menganggap rezeki dan belajar sebagai dua hal yang sepaket. Padahal tidak selalu demikian. Dalam ucapan demikian tersirat makna bahwa pendidikan sebagai investasi yang kau asumsikan adalah sejumlah uang yang sudah dikeluarkan untuk pendidikan. Harapannya, jika jenjang pendidikanmu tinggi, maka kekayaanmu harus meningkat. Pendidikan menjadi tolak ukur rezeki menurutmu. Kamu sungguh telah salah paham dalam hal ini.
Memang benar bahwa di antara mereka yang berpendidikan tinggi, ada orang yang menjadi kaya karena pendidikannya. Tapi, itu hanya satu fakta. Fakta lain, ada pula yang tetap miskin dan ada yang memilih hidup sederhana. Mereka-mereka ini tahu harus bagaimana atau dengan kata lain, mereka tahu cara memaknai hidup mereka. Kaya dalam definisi kebanyakan orang bukanlah definisi yang mereka setujui begitu saja. Atau, sekiranya mereka setuju, tapi bukan berarti mereka mengganggap pendidikan sebagai eskalator yang pasti menghantarkan mereka menjadi kaya.
Sebenarnya, kaya miskin itu adalah soal rezeki. Rezeki dan ilmu terkadang berkaitan, tapi sebenarnya ia punya konsepnya sendiri. Nah, yang paling relevan dengan peningkatan rezeki adalah usaha. Tingkat usaha menunjukkan tingkat kekayaan. Adapaun ilmu yang diperoleh dari belajar, ia hanya menjadi faktor pendukung bahkan terkadang sama sekali tidak berpengaruh. Ada konsep rezeki yang kelihatannya saling bertentangan, tapi keduanya menjadi konsep yang diterima dalam ajaran Islam. Pertama, rezeki diyakini sebagai pemberian Allah yang sudah ditentukan. Sedangkan kedua, rezeki juga bergantung pada usaha manusia. Kedua hal ini disebut sebagai ketentuan atau ketetapan Allah.
Kedunaya terlihat paradoks karena Allah telah menetapkan satu hal, tapi pada saat yang bersamaan ada ketetapan lainnya yang Ia serahkan kepada hambaNya. Padahal ketetapan itu masih berkenaan dengan satu hal saja, yaitu rezeki. Wajar sekiranya dahulu sudah dipertanyakan, sebenarnya, apakah manusia bisa kaya dengan usahanya, atau ia hanya akan mengikuti takdir Tuhan atas dirinya. Dua hal ini kalau harus dipertentangkan, maka ia jelas berseberangan. Karenanya, umat jadi terbagi ke beberapa golongan kala itu. Tapi, bila dilihat dari bi atau multi-dimensi, ada penjelasan lain yang tersaji di sana.
Dimensi yang harus dilakukan dan diupayakan manusia adalah usaha mendapatkan dan membagi rezekinya. Dimensi ini terlihat dapat dapat dimengerti lewat perintah-perintah dan larangan yang digariskan oleh Tuhan atau Pemerintah lewat aturan-aturan. Sedangkan dimensi lain, manusia harus meyakini bahwa rezeki tersebut dari Tuhan asal muasalnya. Bagaimanapun, semua ini memang milik Allah yang sudah Ia tahu berapa jumlahnya buat si A, si B, dan seterusnya. Dimensi ini disebut keyakinan yang dengannya kita tidak perlu terkejut bila tiba-tiba rezeki itu hilang, atau justru bertubi-tubi datangnya. Kenapa? Jawabnya karena Tuhan bisa melakukan sekehendakNya. Meskipun demikian, Tuhan itu Maha Adil lagi Maha Bijaksana.
Keyakinan itu juga membuat kita tidak perlu heran sekiranya seorang kaya mati duluan sedangkan harta yang dimilikinya belum habis dinikmatinya. Karena, selain yang tampak harus berjalan sesuai logika manusia, ada hal lain yang tidak tampak dan menjadi pengetahuan Tuhan. Ia mengatakan bahwa ada harta/hak orang lain dalam harta kita. Boleh jadi, apa yang kita peroleh sejatinya memang bukan punya kita. Itu sebabnya tidak sempat harta itu habis, seseorang bisa saja mati terlebih dahulu. Tidak ada kewajiban untuk mengetahui takdir Allah, bahkan kita tidak akan mengetahuinya kecuali yang Ia ajarkan kepada kita.
Apa hubungannya dengan pendidikan yang kita bicarakan tadi? Penjelasan ini untuk membantah pikiran yang memandang percuma berpendidikan tinggi tapi tidak kaya. Selain kaya itu bermacam sisinya, kekayaan harta itu sendiri bukan termasuk dalam makna belajar sebagai investasi. Islam menetapkan belajar sebagai kewajiban di samping mencari rezeki sebagai kewajiban lainnya. jadi, bukan dengan belajar, semuanya beres. Keuntungan dari pendidikan itu sendiri bukan untuk memperoleh kekayaan harta. Keuntungannya terletak pada perubahan perilaku di mana arahnya akan meninggikan manusia ke puncak kemuliaan. Allahu a’lam bi al-shawaf.

Load comments