Monday, September 25, 2017

Dialog Cinta #2

Dia gadis berpendidikan. Sejak lulus SMA, dia memang tidak akan langsung menikah. Dia lelah dengan realita, baik dalam keluarga maupun masyarakat di desanya. Tapi bukan berarti dia anti sosial. Dia sadar betapa manusia bukan hewan ataupun dewa. Manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Pernyataan ini cukup masuk akal menurutnya. Diapun telah membuktikannya. Di rumah, sehari saja tidak ada orang, papa dan mamanya pergi ke luar kota misalnya, ia pasti akan menghubungi kawan atau tetangganya untuk kemudian memintanya menginap di rumah.
Sempat berpikir menghubungi beberapa pria yang ditaksirnya di sekolah. Tapi, dia tidak mau diarak keliling kampung atau dicambuk di depan umum. Itu tentu membuat papa dan mamanya murka semurka-murkanya. Jangankan tidur serumah dengan pria, diantar pulang oleh seorang pria saja nyaris tidak pernah. Sekali ia dibonceng oleh pria, itupun tidak lain adalah sepupunya sendiri. Memang, pernah terlintas pula dipikirannya untuk memacari sepupunya itu. Tapi, melihat betapa banyak perempuan yang dipermainkan oleh sepupunya, ia jadi ilfeel. Kenapa tidak dibuat untuk bersenang-senang saja? Itu dia masalahnya. Di tengah menggebunya hasrat bercumbu atau bermesra ria, ia masih mendamba kisah cinta sejati. Anehnya, dia sendiri bingung menjelaskan, seperti apa cinta sejati itu.
Yang ia tahu persis adalah, setiap orang harus menghormati norma tertentu. Suatu hubungan yang bertentangan dengan norma, atas nama cinta sekalipun, akan ada sanksinya. Norma-norma itu yang kerap menghantui pikirannya. Dibanding sanksi akhirat, dia justru lebih takut dengan ancaman dunia. Dia takut dipermalukan di depan umum. Dia juga merasa tidak sanggup menahan cambukan algojo di arena eksekusi. Ah, andai saja ancaman semacam itu tidak ada, pikirnya, ia akan melakukan apapun demi hasratnya itu. Itu sebabnya, ia sangat ingin tinggal di wilayah yang meniadakan norma-norma sperti itu. Aturan, menurutnya, tidak boleh masuk dan merenggut hak asasi individu. Justru, hukum harus melindunginya.
Pernah terlintas pertanyaan, kenapa tidak nikah saja? Masalahnya, nikah yang ada dalam pikirannya adalah hambatan yang dengannya seorang perempuan harus rela terkunci di dalam rumah. Jika boleh berkiprah di luar rumah, seorang perempuan tetap saja harus berada dalam jangkauan suami. Segala sesuatu harus lewat izin suami. Bahkan ia pernah mendengar seorang ustadz menjelaskan bahwa seorang istri sangat mudah masuk syurga, yaitu dengan taat pada suami. Ustadz itu juga bilang, jika orang tua di rumah sakit, seorang istri tidak mendapat ijin pulang menjenguk orang tuanya, maka ia haram menjenguk orang tua yang telah melahirkannya. Lalu, untuk apa menikah?
Sejak lama pikiran bebas itu menguasai dirinya, tapi, belum sekalipun ia melakukan hal-hal yang melanggar norma. Mungkin, itu karena ia masih tinggal bersama orang tua. Ketika ia pergi merantau untuk kuliah, ia berpikir akan menjadi perempuan bebas sebebas pikirannya itu. Ia lupa bahwa pikiran hanyalah alam idealita, sedangkan realita adalah tiruan tak sempurna dari idealita tersebut. Itu artinya, bagaimanapun pikiran itu terbang bebas, tapi dalam kehidupan ia akan tetap terikat oleh norma-norma. Di kampusnya, ia jutsru harus memakai baju yang sering disebut sebaga ‘lebih syari’i’ atau ‘lebih islami’. Sepertinya, celana yang masih dimilikinya hanyalah celana tidur. Selebihnya sudah tidak terpakai dan tidak pernah pula dibelinya lagi.
Parahnya lagi, ia malah lebih sering ikut pengajian dibanding touring ke sana ke mari. Kumpul bersama teman laki-laki di warung kopi nyatanya tidak membuatnya begitu nyaman. Paasalnya, hampir semua temannya yang doyan ngopi, pasti suka merokok. Nah, untuk barang yang satu ini, ia memang tidak suka. Tidak hanya rokok, semua hal yang merusak dan terbukti secara ilmiah tentu akan ia hindari. Sampai di sini, ia nyatanya telah menetapkan satu norma, yaitu larangan merokok. Lalu, apakah ada kebebasan sesungguhnya? Ia terus mencari jawaban atas keinginannya itu. Satu hal yang tetap bersemayam dalam dirinya adalah keinginan untuk hidup bebas sebebas pikirannya.
Dua tahun yang lalu adalah kelulusannya dari kuliah yang malah membuatnya semakin terlihat seperti akhwat atau hijaber pada umumnya. Selama kuliah, ia tidak pernah ada masalah dengan keluarganya. Bahkan, ia dikira sudah menjadi anak idaman yang shalihah, rajin menabung, dan penurut. Selalu saja ia dijadikan contoh bagi banyak anak gadis di kampungnya. Tapi, saat anak-anak gadis itu bertanya, ‘kenapa aku tidak kuliah?’, orang tua mereka malah tidak menjadikan sisi ini menjadi sisi yang patut dicontoh. Terlebih dari sisi karir, orang tua mereka hanya ingin anak gadis yang dapat pria pekerja keras, bukan anak perempuan yang bekerja.
Pernah beberapa teman bercerita kepadanya tentang komentar orang tua mereka kepada dirinya. Kata orang tua mereka, ia tidak menikah hingga kini karena pendidikan yang sebetulnya belum terlalu tinggi. Ia masih lulusan S1. Di luar sana, ada teman-temannya yang nyaris menyelesaikan S2 dan mau nyambung ke jenjang berikutnya. Bukan masalah belum menikah yang dipikirkannya. Sejauh ini ia justru menikmati keadannya sebagai pekerja sosial. Tapi, yang paling menyesakkan adalah orang tuanya kini turut mempermasalahkan status lajangnya itu. Akhirnya, ia sedikit melunak. Ia menetapkan syarat tertentu. Tujuannya agar tidak ada pria yang mau. Tapi, semua syarat yang diajukannya itu ustru ada pada diri Rei. “Kenapa kisahku malah seperti Kartini?,” gumamnya. “Apakah aku juga akan mati tidak lama setelah pernikahan ini?”
Dia tidak pacaran, tidak tunangan, tidak pula ta’aruf dalam kacamata kebanyakan orang. Ia malah meminta Rei bertemu di suatu Cafe. Dengan begitu, ia berpikir Rei tidak akan datang. Soalnya, menurut orang tuanya, Rei adalah anak dari sahabat ayahnya di dayah (pondok tradisional) dahulu. Kini, ayahnya Rei dikenal sebagai Ulama berpengaruh di desanya. Tentu, darah seorang Ulama yang mengalir di diri Rei akan menghalangi kakinya masuk ke lokasi Cafe. Sayangnya, itu hanya asumsinya belaka. Rei datang tepat waktu dan memesan kopi hitam. Ia perhatikan dengan seksama perilaku Rei. Rei terlihat biasa, santai, cuma terlalu rapi dengan blazer hitamnya.
“Kamu kok tidak seperti yang ada di foto?” tanya Rei membuka percakapan.
“Kamu dapat dari mana fotoku?”
“Untuk seorang aktifis, kamu bahkan pernah muncul di beberapa media.”
“Oooh. Kebetulan saja lensa kamera wartawan hanya menangkap sisiku yang itu. Mungkin menarik kali bagi mereka bahwa ada seorang hijaber turun ke masyarakat, ikut beberapa aksi, berorasi, bernyanyi, dan tidak risih berada di kerumunan para lelaki,”
“Emang kamu sebenarnya seperti apa?”
“Ya seperti itu, sih. Cuma, pakaianku terkadang seperti yang kamu lihat sekarang ini: celana jeans, kaos oblong, dan berjilbab. Kamu sendiri, kenapa mau ke Cafe?”
“Apa ada yang salah dengan Cafe?”
“Ya nggak tahu. Aku sih tidak. Tapi, kamu kan anak dayah,
Rei memperhatikannya, seolah menangkap apa yang ada dipikirannya. Belum sempat dirinya mengklarifikasi, Rei memotong. “Pertama, tidak semua dayah itu sama. Kedua, tidak semua lulusan dayah yang sama adalah sama. Ketiga, anak dan ayah juga belum tentu sama. Aku tahu maksud pertanyaanmu. Dan kupikir, kita berada dalam kondisi yang sama. Kita tidak seperti kebanyak orang,”
“Apa jaminannya?”
“Kamu datang dengan pakaian yang tidak seperti biasanya. Aku datang ke Cafe yang kamu pikir akan jarang dikunjungi oleh orang sepertiku. Bukankah itu artinya kita sama aja?”
Tidak butuh waktu lama, mereka malah saling melontarkan pertanyaan. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Sikap antipati yang awalnya diperlihatkannya malah berubah begitu saja. Mereka jadi antusias dan saling mendengarkan. Pertanyaan yang terkesan semakin serius sebenarnya bukan karena canggung, melainkan karena keduanya tidak suka dengan pembahasan ala-ala orang yang sedang dimabuk cinta. Mereka nyatanya memang tidak saling jatuh cinta.
“Apa kamu setuju dengan ide kebebasan? Sederhananya, seperti apa aku jika jadi istrimu?”
“Kamu adalah kamu. Kebetulan kamu istriku. Ada yang boleh dilakukan yang sebelumnya dilarang. Ada pula hal yang tetap tidak boleh dilakukan bahkan setelah kamu jadi istriku,”
“Tentang kewajiban mentaatimu?”
“Yang dita’ati itu Tuhan. Sumai yang dita’ati adalah suami yang perintahnya sesuai dengan perintah Tuhan,”
“Apa kamu melewatkan bab tentang kewajiban istri kepada suami dalam pengajianmu?”
“Jelaskan, bagian mana yang ku lewatkan,”
“Aku justru setuju denganmu. Hanya saja, penjelesanmu tidak seperti penjelasan kebanyakan orang, he he he.”

Dia dan Rei tertawa. Tidak tahu karena apa. Cuma, beberapa kesimpulan malah memcocokkan pikiran mereka. Lumayan dalam pembahasan mereka. Dari soal relasi perempuan dan lelaki, hingga sampai soal politik, hukum, pendidikan, dan hal lainnya. Tanpa sadar, pertemuan itu membuat Rei dan dirinya harus pulang larut malam. "Bagaimana dengan perempuan yang pulang malam," tanyanya ke Rei. Rei tersenyum, lalu berkata, "Bukankah aku juga pulang malam?." Mereka tertawa. Seraya beranjak ke parkiran, Rei mempersilakan dirinya pulang terlebih dahulu.
Hanya satu minggu dari pertemuan itu, Rei menikahinya. Rei menerimanya sebagai istri tanpa cinta. Sama dengan Rei, dirinya juga menerima Rei hanya karena yakin bahwa Rei adalah pria yang baik. Pernikahan yang terlihat sempurna itu memang tidak ada paksaan sama sekali di dalamnya, tapi nyatanya malah tidak dilengkapi oleh cinta. Lalu untuk apa ratusan ucapan selamat itu? Untuk apa dirinya dan Rei menikah? Yang pasti, mereka melakukannya karena tidak menemukan alasan sebaliknya. Rei dan dirinya sama-sama ingin bebas. Apakah pernikahan ini hanya untuk membebaskan diri dari pertanyaan-pertanyaan di sekeliling mereka? Biarlah waktu yang menjawab. Mereka hanya melakukan apa yang mereka mau. Hanya itu.

Load comments