Monday, September 18, 2017

Dialog Cinta #1

Setelah lama berteman, kau merasa cocok dan layak menjadi kekasihnya. Menurutmu, dia juga merasakan hal yang sama. Di pagi Minggu, tepat pukul 9.00 kau bertemu dia. Sebenarnya, itu adalah momen rutin kalian.
Kau berniat melamarnya. Meski sering berdua, kau belum dan tidak berniat mengajaknya pacaran. Hubungan itu, katamu, jika bukan diikat oleh pertemanan dan persaudaraan, maka ia diikat oleh suatu pernikahan. Tidak ada kata pacaran.
Pertemuan itu terjadi. Tapi, dia datang berdua. Pria yang bersamanya nyaris sama denganmu; ganteng, tinggi, sudah bekerja, dan rapi. Sedikit berbeda darimu adalah sisi kerapiannya yang agak formal dan kaku.
"Hai!" sapa gadis yang kau kagumi kecerdasannya itu. Sambil mengambil kursi dari meja lain, gadis itu menyilakan pria yang diajaknya duduk, persis di sampingnya atau di depanmu. Jadilah dia, pria yang datang bersamanya, dan tentunya kamu di meja yang sesungguhnya hanya untuk berdua.
"Aku suka pojok ini. Lagian, untuk sekadar ngopi, meja kecil ini tidak akan mengganggu," jelasmu meyakinkan pria di hadapanmu.
"Oh, tidak apa. Kebetulan aku juga suka di dekat kaca yang menghadap persis ke luar," jawab pria yang kau sangka tidak akan nyaman dengan meja itu.
"Aku Rei. Kamu, pasti Indra kan?"
"Iya. Kok kamu," terputus.
"Dia cerita banyak tentangmu. Meski terlibat LDR, kami selalu berkomunikasi."
"Hubungan kalian?"
"Aku suaminya. Emang dia nggak cerita?"
"Oh...." gumammu pelan. Niat hati mengutarakan cinta, kamu malah dikenalkan dengan suaminya. Kisah seperti apa cintamu ini? Tapi, itu memang salahmu. Sejak awal kalian memang tidak pernah terlibat pembicaraan mengeni pacar, jodoh, dan semisalnya.
Kamu dan dia cukup merdeka dalam hal apapun. Itu sebabnya, menanyakan latar belakang dan status seseorang tidak terlalu menarik bagi kalian. Sebab, bagaimanapun, kalian akan tetap berteman, walau di antara kalian ternyata adalah isteri/suami orang. Hanya saja, kamu tiba-tiba punya rasa lain. Dan ternyata, dia malah sudah nikah.
"Aku belum tahu soal ini. Waktu itu kami juga tidak pernah ngobrol ke arah sana. Kalau begitu, berarti, aku terlambat," katamu dengan nada yang agak menyesal.
"Maksudnya?" tanya gadis itu bersamaan dengan suaminya.
"Ya. Aku sebenarnya ingin melamarmu. Tapi, melamar tunangan orang saja tidak boleh, apalagi melamar gadis yang sudah menjadi istri orang."
Mereka tertawa. Kaupun ikut tertawa. Tapi, kenapa kalian tertawa? Sebenarnya hatimu mempertanyakan tingkah mereka. Namun, mulutmu malah ikut menertawakan dirimu sendiri.
"Ind, kamu beruntung kok. Tanya aja ke dia," ujar suami sahabat perempuanmu itu. Tetap saja mereka masih tertawa.
Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba berhenti tertawa di tengah bingungnya dirimu. Kau tatap wajahnya; menunggu penjelasan yang akan keluar dari mulutnya.
"Ind, kita mau cerai. Meski begitu, kita tidak pernah ada masalah. Kita menikah memang karena permintaan orangtua, tapi, sebenarnya kita baik-baik saja. Dia menyukai gadis lain. Dia cerita ke aku. Kebetulan, aku sebenarnya juga suka orang lain. Aku mau ngomong, tapi, duluan dia. Nah, dia ke sini mau cerai. Aku nggak bisa ngurus cerai sendirian. Apalagi di keluargaku, ibu dan papa melarang anak gadisnya menceraikan suami. Aib kata mereka."
"Terus, kenapa tetap cerai?"
"Ya, karena Rei mau mengurusnya. Aku juga minta Rei yang akan menjelaskan ke orangtuaku."
"Maksudku, apa ada alasan lain?" tanyamu menggali.
"Kami tidak saling suka sebagaimana suami-istri pada umumnya, tapi tidak pula saling benci. Rei menceraikanku atas kemauannya, dan aku menerima perceraian ini karena kemauanku juga. Rei dan aku bahkan tidak pernah serumah sebelumnya. Rei bilang, dia hanya akan mendatangiku jika dia dan aku saling mau. Semuanya berjalan di atas kemauan kami."
"Kamu," lanjutnya, "jika ingin melamar, tanyakan ke Rei, kapan waktunya. Setelah itu, datanglah ke rumah. Tapi, jika tidak keberatan, kita menikah sesudah pernikahan Rei ya. Aku mau tahu, seperti apa gadis yang akan dinikahinya ketika mendapati aku di pesta pernikahan mereka."
Rei tiba-tiba menyela. "Dia kurang lebih sama denganmu, calon mantan isteriku. Persis seperti Indra yang kamu bilang mirip dengan sifatku. Nasib kita sama."
Kau turut memotong. "Jika kalian akan nikah dengan orang yang kurang lebih sama karakternya, kenapa tidak kalian pertahankan saja pernikahan ini?"
"Ya, nggak tahu." jawab mereka serentak.
Kau jadi bingung sekaligus senang karena dia menerima ajakanmu. Tapi, sikap mereka justru menguasai pertanyaan di kepalamu. Apa sebenarnya yang harus kau pikirkan? Bukankah kau sejauh ini juga mendambakan orang-orang yang merdeka dan jujur? Ntahlah, katamu dalam hati. Kau sendiri tidak masalah bakal nikah dengan gadis atau janda, padahal orang lain menghindarinya.
Apa jangan-jangan karena gaya berpakaian? Pertanyaan itu muncul lagi. Sebenarnya tidak terlalu sulit menemukan jawabannya, tapi kau malah terjerat dalam cara pandang kebanyakan orang. Lihat pada diri dan sikap mereka, kau pasti menemukan alasan mengapa mereka melakukannya.


Load comments