Tuesday, August 22, 2017

Tiada Paksaan dalam Cinta


Sumber: https://hot.detik.com/
Dalam hadits disebutkan, tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Di hadits yang lain dikatakan pula bahwa kamu tidak masuk syurga hingga kamu beriman. Dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai.
Jika kita telusuri beberapa hadits soal iman, kita akan menemukan begitu banyak bagian-bagian dari iman itu. Sebut saja di antaranya adalah kebersihan, memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dan cinta. Artinya, bila bagian-bagian itu belum lengkap, maka belum sempurna iman seseorang.
Yang menarik di sini adalah cinta. Dua hadits pembuka di atas menyebut cinta (dalam bentuk kata kerja) sebagai indikator beriman tidaknya seseorang. Lebih tepatnya, cinta--sebagaimana bagian-bagian iman lainnya--diposisikan sebagai tolak ukur keimanan, sedangkan iman menjadi penentu masuk syurganya seseorang.
Jika demikian, tidak berlebih bila cinta yang tergolong dalam bagian iman adalah bagian penting dalam persoalan agama. Yang hendak dikatakan di sini adalah, karena sebab cinta itu persoalan agama, maka berlaku prinsip dasar agama baginya, yaitu tiada pemaksaan dalam agama. Begitulah sebaiknya seluruh soalan agama yang hendaknya dilakukan karena kesadaran penuh bahwa kita butuh padanya.
Mungkin pandangan ini agaknya lemah sekali. Secara dalil, penentang pandangan ini akan berkata bahwa ayat itu berkenaan dengan perkara memasukkan orang dalam Islam. Masuk Islam, kata mereka, tidak boleh seseorang itu dipaksa. Tapi, bila ia sudah berIslam, aturan agama berlaku secara penuh baginya. Sebenarnya, secara bahasa, teks ayat itu terbuka penafsiran yang lebih luas dari sekadar masuk Islam.
Tidak ada pemaksaan dalam agama bisa jadi bermakna tidak boleh seseorang dipaksa masuk Islam, juga tidak boleh seseorang dipaksa menjalankan perintah agama (ibadah). Pada makna kedua ini, sengaja dibatasi sebab yang lebih tepat untuk ditiadakan pemaksaan adalah ibadah. Sebab ibadah adalah istilah lain dari agama dalam arti sempit. Ibadah juga menyangkut hubungan privasi hamba dengan Tuhannya secara vertikal.
Kembali ke persoalan semula, cinta sebenarnya memang bukan sesuatu yang dapat dipaksa. Persoalannya, apakah sarana aktualisasi cinta dapat dipaksakan? Sederhananya, apakah nikah boleh karena paksaan? Bagi laki-laki kiranya semua pandangan sepakat bahwa seorang lelaki tidak boleh dipaksa. Laki-laki boleh menentukan calon pasangannya.
Ketika kita hadapkan bagi perempuan, maka di sana ada pandangan, kiranya mayoritas mengatakan demikian, bahwa perempuan boleh dipaksa. Tapi, alasan-alasan rasional yang diutarakan adalah bahwa perempuan harus ada wali. Siapapun yang berwali, maka walinyalah yang menentukan. Selain itu, selalu pula kita dengar, mana mungkin seorang ayah (wali) menginginkan yang buruk bagi anak perempuannya. Menurut prinsip kesetaraan dan kesamaan, tentu pandangan ini tertolak.
Jika kita kembalikan pada kaidah yang menerangkan bahwa apa-apa yang wajib, maka sarana yang mengantarkan pada kewajiban itu menjadi wajib hukumnya. Sebaliknya, apapun yang haram, maka sarana yang mengantarkan pada keharaman itu menjadi haram hukumnya. Nah, nikah adalah sarana aktualisasi cinta dua hamba yang berlainan jenis. Bila cinta tidak bisa dipaksa, bagaimana mungkin sarananya boleh ada pemaksaan?
Tapi, tidak akan diperdebatkan masalah ini lebih dalam karena bukan itu yang hendak diulas. Yang terpenting justru adalah tujuan pernikahan itu sendiri. Kita dapat katakan bahwa nikah adalah ibadah yang dengannya semoga tentram kedua belah pihak dan saling berkasih sayang serta mawaddah keluarga mereka. Tapi bagaimana mungkin bisa tercapai itu semua bila di antara mereka ada yang dipaksa hatinya?
Bila mengikuti istilah-istilah kitab, konklusi yang dapat ditarik dari bahasan ini bisa dibahasakan sebagai berikut:
Al-nikahu huwa wasilatu li al-hubbi. Wa al-hubbu huwa amrun min al-umuri al-diniyati. Haitsu la ikraha fi al-din, fa kadzalika fi al-hubbi wa wasilatihi (al-nikahi).
Terjemahan:
Nikah adalah perantara bagi cinta. Sedangkan cinta adalah satu perkara dari perkara-perkara agama. Karena tidak ada pemaksaan dalam agama, maka demikian pula dalam cinta dan sarananya (nikah).
Sekalipun tidak bisa diterima sebagai syarat atau rukun, cinta tetap menjadi penting dalam pernikahan. Sebaiknya, perempuan sekalipun, harus ditanya kesediannya. Ditanya haruslah benar-benar ditanya, bukan seremoni belaka. Sebab, sering kita jumpai keadaan di mana wali mengabaikan jawaban anak perempuannya. Nah, bagaimanapun, nikah karena saling mencintai tetap lebih baik bukan? Mengapa ribet dengan hukum tentangnya? Berpikirlah!

Note:
Tulisan ini hanya pendapat yang didasarkan pada kebebasan mengutarakannya. Penggunaan bahasa Arab yang tidak tepat mohon dimaklumi karena penulis bukan orang Arab, bukan pula sarjana bahasa Arab.


Load comments