Wednesday, August 30, 2017

Serdadu Majene: Rina Anggraeni Safia

Sebelum memulai apapun tentangnya,terlebih dahulu aku minta maaf atas dua hal: 1. Keterlambatanku menulis tentang dirinya yang mungkin sudah basi di mata sebagian orang, 2. Terkait isi tulisan ini yang sedikit banyaknya mengandung banyak bully dan fitnah tentang dirinya. Tapi satu hal yang selalu kupastikan ada dalam tulisan ini, yaitu rasa cinta dan sayangku sebagai adik. Ya, terus terang, dia memang lebih tua dariku. Tidak mungkin aku menganggapnya adik, kan? Dialah yang sepantasnya menganggapku adik dan aku menganggapnya sebagai kakak. Mau tidak mau, yang lebih tua harus jadi kakak. Atau tinggal milih, mau jadi ibu, bibi, wawak, atau nenek?

Senyum apakah ini?
Baiklah, sekarang akan kucerikatan tentang dirinya sejauh ingatanku. Perlu kusampaikan bahwa aku sangat pelupa. Bahkan besok hari apa, aku bisa lupa. Untungnya di HP selalu tertera hari dan tanggal. Kalau tidak, bisa kacau rencana hidupku. Bisa-bisa, ketika usiaku sudah tidak lagi muda, aku malah masih sibuk dengan dunia yang fana. Kenapa malah ngomongin fana ya, seperti judul film India saja. Tapi, film tersebut bagus kok. Serius. Tonton deh!

Oke, kembali ke dirinya. Rina Anggraeni Safia adalah nama kecilnya, bukan Sapi ya, tapi Safia. Tidak, aku tidak sedang melucu. Serius, namanya Safia. Dia adalah anak dari tokoh Muhammadiyah di Lamongan. Menurut ceritanya, ayahnya sangat fanatik terhadap Muhammadiyah. Tapi, aku jadi bingung, apakah ada orang Muhammadiyah yang fanatik? Anehnya, dia sama sekali tidak tertarik bergabung dalam organisasi yang super kece itu. Padahal ni ya, aku itu dibesarkan dengan paham keIslaman yang sangat tradisionalis, tapi malah ikut Muhammadiyah.

Di pesantrenku, Muhammadiyah adalah contoh aliran sesat yang terus dicap demikian. Itulah awal mula penasaranku mencari tahu tentang Muhammadiyah.
Yang hendak ku bilang adalah, aku saja memutuskan masuk organisasi terbesar itu, masa dia malah keluar? Itu hak sih. Jadi, ya nggak ada masalah. Kisahku hampir mirip dengan dirinya. Mungkin, perjuangannya lebih berat dibanding aku. Kesamaan kami adalah, berasal dari keluarga yang biasa saja. Ini yang membuat dirinya kerja sambil kuliah. Begitupun denganku. Tapi, di tengah arus pencarian kerja yang luar biasa padat, bahkan banyak yang gagal padahal sudah mengantri sejak lama, dirinya malah memutuskan keluar dari pekerjaannya. Kerja yang satu ini sebenarnya sangat mapan dari sisi gaji. Tapi, karena diterima di Indonesia Mengajar, ia memutuskan keluar dan memilih mengabdi setahun di pelosok negeri.

Apakah Tuhan mengecewakannya? Tidak. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Bahkan ni ya, dia ketemu jodoh dalam program ini. Beruntungnya lagi, jodohnya adalah rekan seangkatan di Indonesia Mengajar. Bayangin, seperti apa hebatnya anak mereka kelak? Aku bilang hebat karena mereka adalah pumuda/i terbaik bangsa; lulus seleksi dari 8000-an lebih pendaftar. Dirinya sendiri mungkin tidak bisa membayangkan itu. Suaminya juga terbilang luar biasa. Pasalnya, ia juga berani meninggalkan kerjanya dan Indonesia Mengajar, bahkan setelah kerja lagi, ia meninggalkan kembali pekerjaannya demi dekat dengan istri tercinta yang kala itu sedang hamil.

Apa? Dia sudah hamil? Kenapa tiba-tiba ceritanya loncat begini? Tidak apalah. Aku juga tidak tahu persis bagaimana dirinya bisa hamil. Yang pasti, orang yang sudah menikah biasanya akan hamil. Begitu hukumnya. Jangankan yang sudah menikah, yang belum saja kadang hamil duluan. Iya nggak sih (berlagak culun)? Semoga saja dia tidak melakukan hal-hal konyol yang dilakukan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab karena kehamilan dan kelahiran anaknya. Aku yakin, dia tidak akan melakukan hal semacam itu. Setahun di penempatan kerja kami mendidik anak orang. Maka nggak mungkin ke anak sendiri dia malah tidak peduli. Sejauh ini dirinya bahkan begitu bangga bercerita di medsos tentang Kafka, anaknya. Itu artinya, dia senang dan bahagia dengan kehadiran Kafka.

Gaya apakah ini?
Di penempatan dulu, Rina adalah sosok perempuan yang aneh. Dia pernah meninggalkanku di kota Majene hanya karena ingin mengajar di hari itu. Aku tidak mau karena jarak yang begitu jauh di mana siangnya harus kembali ke kota karena ada rapat. Dia nekat dan pergi ke sekolah di pagi buta. Yang terjadi adalah, dia menabrak lubang besar dan terjatuh; pingsan tidak sadarkan diri. Dia tidak jadi ngajar dan tidak jadi ikut rapat. Tapi, ada sih hikmahnya. Pasca kejadian itu, jalanan Majene – Malunda jadi mulus tanpa lubang. Tidak ada yang tahu alasan persis mengapa jalanan itu jadi mulus. Dan kami yakin, itu karena Rina Anggraeni Safia. Dia ibarat tumbal yang menyelamatkan banyak orang. Terimakasih Rina.

Awalnya aku berpikir bahwa kejadian itu akan membuatnya insyaf dan berhati-hati saat mengendarai motor. Nyata tidak demikian. Dia malah semakin sering jatuh dan terjun ke jurang. Untung selalu selamat. Aku jadi curiga, mungkin dia sengaja menabrak sesuatu atau bahkan terjun ke jurang yang tidak terlalu dalam saat mengendarai motor. Jangan tanya apa motifnya. Yang ku tahu, dia sering menjadi objek bullying. Tapi, rasanya tidak mungkin karena di-bully. Soalnya dia terlihat senang dan tetap ceria dengan bully-an kami. Aneh kan? Entahlah, hanya dia yang tahu. Aku berharap tingkah demikian tidak terulang saat dirinya balik dari penempatan.

Ada banyak momen yang kulewati bersamanya. Hanya saja, aku tidak akan mengulasnya di sini. Biarlah kenangan itu menjadi rahasia antara kami berdua. Halah, semacam aib aja, harus dirahasiakan, he he he. Ada satu puisi yang kurangkai khusus untuknya saat itu. Puisi pendek itu adalah analogi dirinya dan aku. Begini kutipannya, “Kau adalah sampah, dan aku keranjangnya. Bagaimanapun kamu, sampah akan kembali ke tempatnya (keranjang sampah).” Masa sih yang beginian disebut puisi? Terlepas kalian menyebutnya apa, yang pasti aku menganggapnya so romantic. Kala itu hendak kusambung dengan, “Dan aku, tidak peduli dengan ketidaksucianmu. Justru karena kotormu, kau akan kembali padaku. Akulah yang menerimamu bahkan dalam ketercemaran.”

Gimana, bagus kan?

Ngomong-ngomong, di sini aku juga hendak mengucapkan banyak terimakasih atas kesabarannya menjadi partner setahunku di Malunda. Banyak burukku yang diketahuinya, begitupun sebaliknya. Sedikit baikku yang dirasakannya, tapi tidak sebaliknya. Aku sangat beruntung ditempatkan di sana bersama Rina Anggraeni Safia. Setidaknya, darinya aku bisa melihat dunia dari sudut yang lebih kreatif. Sungguh, awalnya, aku tidak kreatif sama sekali. Tapi, karena keterampilan tangannya, aku jadi turut kreatif dalam beberapa hal, seperti menghias kelas dan cara mengajar anak. Dia partner dan guruku. Tidak mungkin menjadi adikku, dia kan lebih tua, ha ha ha.


Tabik & Selamat Siang.
Serdadu Majene di Pulau Karampuang, Mamuju.

Load comments