Wednesday, August 23, 2017

Pa'bandangan: Sebuah Tradisi Masyarakat Mandar


Pa'bandangan manu-manuk (pemandangan burung-burung) merupakan tradisi Mandar yang diadakan biasanya 3 tahun sekali. Namun, kali ini pelaksanaan itu sudah sejak 2008 tidak pernah dilakukan lagi.

Pada tradisi ini, masyarakat yang memiliki asal usul yang sama (keturunan) berkumpul dan membuat sapo-sapo (rumah-rumah/gubuk) tempat bermalam, serta membawa hiasan burung yang diukir dari kayu. Pada jam tertentu mereka akan berkeliling beberapa putaran. Rute keliling mengikuti rumah-rumah yang mereka buat, berjejer dan melingkar.


Tidak terlalu jelas informasi yang saya dapat. Yang terkumpul dari hasil bertanya, mereka menyebut bahwa kegiatan bertujuan untuk menolak bala. Bala yang mereka maksud adalah banjir besar yang dulu pernah terjadi di daerah mereka. Kurang lebih begitu katanya. 

Mengapa harus hiasan burung? Nah, ketika itu hanya burung yang tersisa. Banjir menghabiskan segalanya, tapi ada satu pohon yang tersisa. Ketika banjir itu reda, mereka mendapatkan satu pohon yang hanya dihuni oleh burung. Penyangga hiasan burung menyimbolkan pohon yang dihuni burung-burung tersebut.

Mereka berkeliling beberapa kali. Istirahat (berhenti), lalu berkeliling lagi, berhenti lagi, dan begitulah seterusnya dalam beberapa hari. Itu hanya bentuk perayaan katanya. Saya melihat bahwa mereka pasti akan berhenti ketika masuk waktu menunaikan kewajiban. Seperti sekarang, waktu maghrib hingga'isya mereka akan berhenti dan akan mulai lagi setelah'isya.

Load comments