Wednesday, July 26, 2017

Cinta dan Rasa Ingin Memiliki


Dalam cinta, rasa ingin memiliki terkadang muncul menjadi bagian darinya. Namun, cinta dan rasa ingin memiliki tetap saja dua hal yang berbeda. Sekalipun seseorang punya dua rasa itu secara bersamaan, tapi tidak lantas menganggapnya sama, terlebih bila ia merendahkan orang-orang yang mampu merelakan/melepaskan sebagai "orang tanpa cinta."
Bahkan, dalam tingkatan tertentu, merelakan bisa jadi lebih tinggi kadar cintanya dibanding rasa ingin memiliki dan tidak bisa melepaskan. Tuhan mengatakan bahwa orang-orang yang beriman itu senantiasa menyadari bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepadaNya.
Kesadaran demikian adalah istilah lain dari merelakan, bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang mampu mengikhlaskan apapun yang pergi darinya. Di pihak lain, ia juga meyakini bahwa keadaan demikian boleh jadi lebih baik baginya. Allah pun berkata bahwa apa-apa yang dihapus/diambilNya akan Ia ganti dengan yang lebih baik. Itu sebabnya mengapa keyakinan dan cinta terletak pada kekuatan merelakan, walau terkadang juga terwujud dalam usaha ingin memiliki.
Memiliki dan merelakan dengan begitu dapat kita sebut sebagai bagian dari rasa cinta yang begitu luas cakupannya. Sangkin luasnya, hukuman bisa menjadi bukti dari kecintaan itu. Namun, bagian-bagian itu bukan satu-satunya faktor, dan bukan pula faktor yang menegasikan faktor-faktor lainnya. Artinya, seseorang boleh jadi mencintai dengan merelakan, tapi, tanpa dipungkiri, ada pula yang cintanya justru terletak pada rasa ingin memiliki.
Dan cinta dalam bahasan ini sebenarnya masih bagian kecil dari hakikat cinta itu sendiri, yaitu hanya satu bagiannya saja. Cinta dalam status ini hanya sebatas cinta dua jenis yang berbeda, yaitu antara laki-laki dan wanita. Yang hendak disimpulkan di sini ialah, jangan gegabah menuduh orang lain sebagai manusia tanpa cinta. Sebab, cinta adalah fitrah yang kebetulan di moment idul fitri ini kita harap kembali ada.


Load comments