Wednesday, July 26, 2017

Bukti Cinta

Sumber: https://waromuhammad.blogspot.com/
Bila kita ditanyai orang, apa bukti cinta itu? Atau pertanyaan spesifiknya, taruhlah seorang gadis yang menanyakan, apa bukti cintamu padaku wahai anak muda? Apa jawabannya? Tentu sulit kita menjawabnya.
Mungkin hanya saya yang kesulitan. Yang pasti, soal demikian berbeda dengan soal-soal dalam masailal yang diajarkan di pengajian-pengajian. Soal-soal masailal itu sudah ada jawabannya dan bisa dihafalkan. Sedangkan bukti cinta, bisakah tuan-tuan menjawabnya?
Dalam tulisan sebelumnya, ketika saya mengutip dan mengedit seperlunya surat Wis (Saman) kepada ayahnya, sedikit banyaknya saya setuju dengan keyakinan semacam itu. Sejauh ini, biarpun banyak orang menulisnya, cinta tetap tak terangkum sepenuhnya oleh kata-kata.
Karena itu, tentu akan semakin sulit menjawab pertanyaan semula; tentang bukti cinta. Sebab, cinta itu sendiri bukan konsep yang bisa dijelaskan begitu saja, justru harus dirasakan. Dan orang-orang yang merasakan cinta, biasanya sulit pula menerangkan perasaannya.
Mungkin, kita butuh seseorang yang pandai membuat tafsir, tentunya juga sedang dirundung gelora cinta. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah bisa keadaan itu ada bersamaan? Dikatakan bahwa cinta membuat orang kehilangan logikanya, lantas bagaimana ia menjelaskan?
Maka dari itu, segala penjelasan tentang atau terkait dengan cinta tidak akan mewakili seluruh, tepatnya justru hanya sebagian kecil dari cinta. Dengan begitu, mendasarkan cinta pada satu penjelasan saja akan sangat lemah nilainya.
Pecinta lain akan dengan mudah membantah penjelasan seseorang tentang cinta sekalipun ia dapat pula untuk dibantah. Dari situlah mengapa cinta itu sendiri bukan untuk diklaim, apalagi klaim yang satu menegasikan klaim orang lain.
Cinta, sekalipun ia dekat dan senantiasa ada, tetap harus dicari dan dicapai. Posisi manusia, laki-laki dan perempuan, hanyalah seperti musafir yang berasal dari Cinta, pergi karena Cinta, dan pulang untuk Cinta. Semua gerak gerik mereka adalah dalam rangka mencintai.
Kembali ke persoalan awal, apa bukti cinta itu? Pertanyaan ini akan menjebakmu pada makna cinta itu sendiri. Maka, sebagai pecinta, kau harus mengenali cinta dan hal-hal yang serupa dengannya. Kau dapat bertanya balik, apa definisi cinta yang tuan maksud? Bila dia tidak dapat menjelaskan, maka kau akan punya dua pilihan:
Pertama, tidak menjawab pertanyaan itu. Kedua, menjelaskan definisinya dan menunjukkan bukti cinta padanya. Pilihan kedua tentu sangat berat, terlebih di hadapan wanita, atau wanita di hadapan lelaki. Pertama-tama yang mesti dipahami adalah cinta tidak mendasarkan dirinya pada hukum tertentu, sebagaimana perilaku mendasari dirinya pada hukum, atau bukti pada alat bukti, atau alat bukti pada UU.
Cinta bekerja tidak dengan logika semacam itu. Cinta adalah cinta. Maka apapun tentangnya, termasuk bukti cinta, haruslah berdasarkan cinta itu sendiri. Dengan begitu, kau akan mengutarakan bukti-bukti yang relevan dan diterima oleh cinta. Dan bukti pertama adalah pengakuan suka rela bahwa kau benar mencintai. Pengakuan di bawah paksaan tidak dapat diterima sekalipun ia relevan.
Kedua, kemauan yang diucapkan dengan mantap. Dalam konteks ini tentu adalah kemauan menikahinya. Lantas sebagian orang akan berkata, bukankah itu berarti cinta dikaitkan dengan hukum? Tidak. Sebab kemauan yang menjadi dasar, bukan nikah. Nikah hanya sarana yang dalam sistem kehidupan tentu akan selalu saling terkait satu dengan lainnya.
Ketiga, komitmen akan saling memberi rasa aman, kenyamanan, kasih dan sayang, serta pembagian peran--bukan kewajiban dan hak. Sekalipun kewajiban dan hak tidak dapat dinafikan, maka ia merupakan sudut lain, sedangkan ini adalah sudut tersendiri dari kehidupan, yaitu cinta.
Masih banyak bukti-bukti lain dari cinta itu. Bukti itu sangat terkait dengan konsep dan keadaan yang dialami si pecinta. Bicara diterima tidaknya, ia tergantung pada yang dituju. Tapi, bila saling mencintai, maka bukti yang satu dengan yang lainnya, sekalipun lemah dalam pandangan umum akan tetap diterima. Sebab mereka yang berhak atas cinta mereka.
Sebagian orang mungkin mengira, kiranya tuan mendasarkan beberapa bagian pada ayat-ayat al-Quran. Kita menjawab dugaan itu dengan jujur; ya, sebab al-Quran adalah Kalam Cinta dan bukti cinta Yang Maha Cinta kepada hamba yang dicintainya. Tapi kita menyadari bahwa ayat-ayatNya terbagi menjadi dua; qauliyah dan kauniyah.
Namun demikian, sekali lagi ditegaskan bahwa soal cinta, sekalipun al-Quran sebagai dasarnya, itu hanyalah upaya serius yang dilakukan oleh para pecinta untuk meneguhkan cintanya. Sedangkan penjelasan tentangnya, tetap saja bukan kebenaran (al-Quran) itu sendiri. Sedari awal bahkan sudah dikatakan, lemah kiranya pandangan ini dijadikan dasar.
_______________________________________________________________________________

Load comments